BAGAIMANA SEBAIKNYA SIKAP KITA TERHADAP PENGIDAP HIV/AIDS?
Semua harus bersikap biasa (tanpa membedakan) seperti sikap
kita terhadap orang sehat atau penderita penyakit lain. Semua hal dapat
dilaksanakan terhadap penderita, kecuali kegiatan yang menyebabkan
adanya pemindahan/ kontaks darah (cairan tubuh lain) dari pengidap
HIV/AIDS kepada orang lain. Misalnya : senggama tanpa Kondom, transfusi
darah, tatoo/ suntik dengan alat yang sama dsb.
Sikap
membedakan, apalagi sikap memusuhi, akan membuat penderita tertekan.
Akibatnya, dapat mendorong mereka menularkan penyakitnya secara tak
bertanggungjawab. Sebaliknya penderita HIV/AIDS membutuhkan dukungan
agar mereka memiliki kepercayaan diri dan mampu berbuat banyak bagi
masyarakat.
Untuk membantu penderita AIDS:
Bangkitkan
kepercayaan mereka, dan berilah dukungan dan kasih sayang. Katakan
bahwa mereka masih bisa berbuat apa saja seperti sebelumnya.
Satu-satunya beda ialah bahwa mereka harus memakai kondom kalau
melakukan senggama. Berilah pemahaman terhadap masalah yang akan mereka
hadapi dan cara mengatasinya.
Jangan merasa tertekan
secara berlebihan, karena semua orang pasti diberi cobaan. Harus pasrah
ke hadirat Allah dan tabah menghadapinya, tak perlu menyesali diri
berlebihan. Lebih mendekatkan diri kepada Tuhan dengan memperbanyak doa
dan ibadah agama.
Tidak perlu merasa kehilangan hak
mendapat pelayanan dan perawatan dari orang lain. Jalinlah komunikasi
untuk berbagi rasa secara terbuka dan jujur.
Untuk membantu keluarganya:
- Terimalah
anggota yang menderita AIDS secara wajar. Jangan dibedakan, jangan
ditakuti, jangan disingkiri. Tapi juga jangan dilebih-lebihkan.
- Dalam
semua hal, berbuatlah seperti biasa. Satu-satunya perkecualian ialah
dalam bersenggama dengan pasangannya, harus selalu memakai kondom.
- Besarkan
jiwanya, ajak untuk meningkatkan ibadah dan melakukan lebih banyak
kegiatan yang bermanfaat bagi keluarga dan masyarakat.
BAGAIMANAKAH MERAWAT PENDERITA HIV/AIDS ?
Untuk
bisa merawat pada para penderita HIV/AIDS, maka perta¬ma-tama kita coba
untuk membayangkan diri kita sendiri sebagai pengidap HIV/AIDS. Dengan
mengetahui mana aktivitas yang beresiko menularkan HIV/AIDS dan mana
yang tidak, kita siap memperlakukan para penderita tersebut, secara
wajar-wajar saja.
Yang perlu diperhatikan, kita
harus tetap memperhatikan prosedur P3K maupun pera watan penderita
yang memenuhi keselamatan penolongnya.
Penderita AIDS
dalam Stadium Berat perlu dirawat oleh Tenaga Kesehatan yang
berpengalaman. Sedang perawatan di rumah bagi penderita yang tidak
berat, perlu hati-hati untuk memutuskan resiko penularan.
Penggunaan prosedur P3K yang aman ialah sebagai berikut:
- Gunakan sarung tangan dan celemek untuk tugas perawatan.
- Cucilah tangan setiap tugas.
- Pakaian kotor dan berdarah harus dicuci dengan air panas.
- Sikat gigi dan alat cukur jangan digunakan bergantian.
- Hindari kontak langsung, bila anda punya luka.
Bagaimana mengobati orang dengan AIDS ? atau apa itu Obat Antiretroviral?
Anggapan
AIDS tidak ada obatnya adalah salah, sebagian besar infeksi
oportunistik dapat diobati, bahkan dicegah dengan obat yang tidak
terlalu mahal dan tersedia luas. Saat ini telah ada obat yang cukup
canggih, yang dapat memperlambat kegiatan HIV menginfeksi sel yang masih
sehat. Obat ini disebut sebagai obat antiretroviral. Dalam mengkonsumsi
obat HIV tidak boleh memakai satu jenis obat saja, sedikitnya kita
harus memakai kombinasi dua jenis obat, tetapi agar terapi ini dapat
efektif untuk jangka waktu yang lama, sebaiknya kita memakai kombinasi
tiga obat. Terapi ini disebut sebagai terapi antiretroviral atau ART.
Berapa harga ARV ?
ARV dulu
sangat mahal, tetapi belakangan ini, harganya turun terus. Pada Oktober
2003, harga kombinasi tiga obat generik adalah Rp. 300.000,- per bulan,
dan ada kemungkinan akan turun lagi. Namun jelas harga ini masih di luar
kemampuan sebagian besar penderita AIDS.
Kapan seorang pengidap HIV, perlu diobati dengan ARV?
Jika masa AIDS telah tiba, hal ini dapat dilihat dari jumlah CD4 yang mencapai angka di bawah 200
CD4
Kerusakan yang disebabkan
oleh infeksi HIV adalah sel darah putih yang disebut sel CD4 ( adalah
bagian dari sel limfosit), sel ini sangat penting pada sistem kekebalan
tubuh, dan jika jumlahnya kurang, sistem tersebut menjadi terlalu lemah
untuk melawan infeksi.
Bagaimana menghitung jumlah CD4 ?
Untuk
mengetahui jumlah CD4 hanya melalui tes darah khusus, Jumlah CD4
normal pada saat sehat adalah 500 – 1000, setelah terinfeksi HIV, jumlah
ini biasanya turun terus. Jadi jumlah ini mencerminkan kesehatan sistem
kekebalan tubuh.
Kapan masa AIDS itu ?
Masa AIDS
tiba manakala jumlah CD4 lebih kecil dari 200, sehingga status sistem
kekebalan tubuh dapat dikatakan rusak, sehingga infeksi oportunistik
(IO) dapat menyerang tubuh. Untuk mempertahankan jumlah CD4 dalam batas
normal seseorang pengidap HIV dapat mengkonsumsi ARV.
Dimana kita dapat melakuakn tes CD4 ?
Di
Indonesia sarana tes CD4 belum tersedia secara luas dan biayanya sangat
mahal. Karena CD4 adalah termasuk golongan sel darah putih atau yang
dikenal dengan istilah Limfosit, dengan mengetahui jumlah limfosit dalam
darah juga dapat untuk melihat status kesehatan seseorang, untuk
mengetahui jumlah limfosit dengan melakukan tes yang disebut total
lymphocyte count (TLC) tes ini relatif murah dan dapat ditemukan hampir
di setiap laboratorium. Jumlah TLC untuk orang sehat adalah 2000. (TLC
1000-1250 biasanya sebanding dengan CD4 kurang lebih 200).
Berapa kali orang HIV positif melakukan tes CD4 / TLC?
Orang HIV positif diusulkan untuk melakukan tes CD4 /TLC setiap 6 bulan sekali.
Catatan :
Tidak
selalu jumlah CD4/TLC rendah menunjukkan kwalitas kesehatan seseorang
rendah, hal ini sangat dipengaruhi sekali oleh kondisi kejiwaan
seseorang serta mutu hidupnya yang baik.
Bisakah kita mengetahui jumlah virus HIV ?
Bisa,
dengan melakukan tes viral load kita dapat mengetahui jumlah virus HIV
dalam tubuh seseorang, tes ini merupakan kebalikan dari tes CD4/TLC,
jumlah viral load makin sedikit status kesehatan seseorang semakin baik.
Tes ini juga tidak tersedia secara luas dan biayanya mahal, tes ini
tidak begitu penting, dan hanya ada manfaat jika kita memakai obat
antiretroviral.